Bank Zakat

Khalifah Umar bin Khattab, Meneladani Keberanian dalam Mengelola Zakat

Khulafaur rasyidin merupakan khalifah pengganti Nabi Muhammad SAW yang akan memimpin umat setelah Rasulullah SAW. Mereka memegang hak untuk bertindak dan mengatur berbagai kegiatan yang berkaitan dengan urusan negara. Salah satu khalifah yang terkenal dengan keberaniannya dalah Khalifah Umar bin Khattab, tentu sahabat tidak asing dengan nama tersebut. Beliau merupakan khalifah kedua setelah Khalifah Abu Bakar As Shiddiq. Pada kesempatan ini kita akan membahas bersama Sejarah pengelolaan zakat di zaman Khalifah Umar bin Khattab, mari Simak kisah berikut ini. 

 

Umar bin Khattab adalah sosok pemimpin yang selalu mengutamakan kesejahteraan rakyatnya. Pada masa pemerintahannya, beliau banyak merumuskan Langkah-langkah dan kebijakan dalam menjalankan pengabdiannya kepada rakyat, salah satunya adalah membentuk berbagai departemen untuk mempermudah kerjanya. 

 

Sistem pengelolaan zakat pada masa Khalifah Umar bin Khattab diawali dengan penuh kesedihan. Tiada hari tanpa menangis, saat itu ia memulai system pengelolaan zakat dengan mencari masyarakat yang membutuhkan. Khalifah Umar bin Khattab berkeliling rumah penduduk, karena terbiasa menggunakan pakaian yang sederhana banyak yang tidak menyadari kehadiran beliau. Hingga pada suatu malam terdengar tangisan dari rumah yang begitu sederhana, ternyata tangisan tersebut berasal dari bibir seorang anak kecil yang kelaparan sedang ibunya Tengah merebus batu karena tidak ada bahan makanan. Saat itu pula dengan segera ia mengambil sekarung gandum dan memberikan pada keluarga tersebut. Disaat yang sama Khalifah Umar menyadari bahwa masih banyak umat muslim yang kesulitan dan terjerat kemiskinan. Ia pun memikirkan inovasi pengelolaan zakat agar dapat mengentaskan kemiskinan. 

 

 Baitul Mal, sebuah Lembaga yang Khalifah Umar dirikan untuk mengelola harta yang dikumpulkan dari orang-orang mampu. Yakni zakat fitrah dan zakat maal. Tidak hanya mengelola dana zakat, Baitul Mal juga mengelola ghanimah atau harta rmpasan perang. Hal ini berbeda dengan masa Rasulullah SAW dan Khalifah Abu Bakar As Shiddiq. Dimana pada saat itu Baituk Maal hanyalah tempat transit harta zakat untuk langsung disalurkan. Namun, pada masa kepemimpinan Umar bin Khattab, Baitul Maal mampu berfungsi untuk menggerakan roda perekonomian Islam. 

 

Khalifah Umar juga mengeluarkan kebijakan yang dipandang cukup bertentangan dengan apa ang dilakukan Rasulullah SAW semasa hidup. Dimana beliau tidak menyalurkan zakat kepada salah satu dari delapan asnaf, yaitu mualaf atau orang yang baru masuk Islam. Padahal perintah memberikan zakat kepada mualaf tertuang jelas pada Surah At Taubah ayat 60. Saat itu Khalifah Umar menilai bahwa Sebagian besar orang yang baru memeluk agama Islam adalah orang yang mampu dan memiliki harta berlebih, seperti Aqra bin Habis dan Muawiyah bin Abu Sufyan. Mereka berasal dari kalangan yang mampu dan tidak perlu diberikan zakat. 

Perbedaan pengelolaan zakat juga terlihat Ketika Khalifah Umar memutuskan untuk menyimpan Sebagian dana yang masuk, untuk digunakan sebagai dana darurat, pembiayaan perang serta kebutuhan fasilitas umum dan sosial untuk umat. Dimana dana tersebut dikelola dengan produktif, sedangkan pada Masa Rasulullah SAW dan Khalifah Abu Bakar As Shiddiq semua dana zakat yang masuk akan segera disalurkan untuk umat muslim yang membutuhkan. 

 

Selain itu khalifah Umar juga mendirikan Baitul mal di  cabang-cabang  di setiap daerah provinsi yang berada di wilayah kekuasaan Islam. Sehingga, penduduk muslim yang tingal jauh dari pusat pemerintahan, tetap menyalurkan dana zakat dan memenuhi kebutuhan lainnya dnegan mudah. Khalifah Umar juga menunjuk Bendahara sekaligus pengelola Baitul Mal, yaitu Abdullah bin Arqam, serta Abdurrahman bin Ubaid Al-Qori dan Muayqob sebagai wakil dan asistennya. 

 

Dana Baitul Mal terus meningkat, hal ini terjadi seiring Khalifa Umar melakukan penaklukan wilayah Islam. Tercatat dalam Sejarah pengelolaan zakat pada masa khalifah Umar bin Khattab, bahwa setelah penaklukan wilayah Syiria, Sawad, dan Mesir pemasukan Baitul Maal meningkat secara tajam, yaitu sebesar 100 juta dirham kharja dari Sawad dan dua juta dinar dari Mesir. Jumlah dana yang terkumpul sangat banyak. Oleh sebab itu, khalifah Umar Menyusun system pengelolaan zakat yang cukup ketat. 

Baitul Maal ditetapkan berada di bawah pengawasan eksekutif pemerintah. Yang mana didalamnya ada pengurus atau pelaksana yang menjalankan pencatatan administrasi serta pengelolaan keuangan. Pengurus Baitul Maal wajib memberikan laporan secara berkala kepada eksekutif pemerintah, sebagai bentuk profesionalitas Lembaga. 

 

Pada kepengurusan Baituk Maal, Khalifah Umar mendirikan departemen untuk mendistribusikan dana Baitul Maal. Seperti Departemen Pelayanan Militer yang berfungsi menyalurkan bantuan kepada orang-orang yang ikut dalam peperangan. Serta anak dan keluarganya yang ditinggal berperang. Jumlah bantuan yang diberikan, tergantung jumlah tanggungan keluarga masing-masing. 

Selain itu, adapula department Pendidikan dan Pengembangan Islam yang juga mendistribusikan dana bantuan Baitul Maal kepada Muadzin, Imam, Guru, Juru Dakwah yang menyebarkan dan mengembangkan ajaran Islam serta ilmu pengetahuan. Sehingga kualitas SDM dapat lebih terjaga dan terus mengalam peningkatan. 

Departemen Kehakiman dan Eksekutif yang berfungsi untuk mengelola gaji para hakim dan pejabat eksekutif, gaji tersebut diperoleh dari dana Baitul Maal. Nominal gaji yang diberikan berdasarkan pertimbangan kebutuhan keluarga masing-masing. 

Departmen yang berfungsi untuk mengelola bantuan bagi fakir dan miskin dikenal dengan Departemen Jaminan Sosial. Bantuan diberikan secara langsung kepada ummat muslim yang berhak menerima atau hidup serba kekurangan. Baitul Maal bertanggungjawab menanggung kelanjutan hidup janda dhuafa, anak yatim, anak terlantar, pembiayaan pemakaman seorang dhuafa, membayar hutang-hutang orang yang bangkrut, memberikan pinjaman dana tanpa bunga untuk urusan perdagangan, serta membayar diyat. 

 

Sahabat, dari penjelasan diatas bahwasanya dalam pengelolaan dana zakat memerlukan Lembaga agar mudah dan terstruktur. Keberanian Khalifah Umar bin Khattab, walaupun menghasilkan banyak perbedaan dengan kebijakan sebelumnya, namun dapat membuktikan bahwa dalam mengelola zakat atau apapun itu perlu adanya inovasi. 

Sahabat semua, jangan lupa untuk menunaikan zakatmu. Tidak hanya menjalankan zakat sebagai ibadah, namun juga sebagai bentuk kepedulian kita terhadap mereka yang membutuhkan. Mari tunaikan zakakatmu di LAZNAS Al Irsyad, kami siap menerima, mengelola, dan menyalurkan kepada mereka yang membutuhkan. 

Bank Zakat merupakan media yang di kelola oleh LAZNAS Al-Irsyad
untuk memberikan edukasi seputar zakat dan filantropi islam

Alamat Kantor

Jl. Kalibata Utara II No.84 RT. 010 RW.002 Kalibata, Pancoran, Jakarta Selatan DKI Jakarta Raya 12740

Jalan H. Madrani No.1, Brubahan, Grendeng, Kec. Purwokerto Utara, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah 53122

Kirim Pesan
BankZakat
Assalamualaikum Warahmatullah Wabarakatuh, Semoga Anda selalu dalam kebaikan dan keberkahan dari Allah SWT. Afwan apakah ada yang bisa kami bantu?